Home » , » Kapan Kita “Menjual” Indonesia?

Kapan Kita “Menjual” Indonesia?

Written By Ledia Hanifa on Rabu, 27 November 2013 | 11:28:00 PM


Ini adalah catatan pengamatan selama 5 hari di Tokyo dalam rangka mengikuti workshop untuk anggota Parlemen yang diselenggarakan oleh Asian Population and Development  Association (APDA) beberapa waktu lalu. Bukan untuk melakukan provokasi, hanya sekedar upaya mengusik keinginan untuk menjual pariwisata Indonesia. Atau bahkan hanya sekedar mensosialisasi nama Indonesia.
       
Setiap hari sebelum kegiatan dimulai, berita dari CNN maupun BBC menjadi sarapan pagi. Juga pada malam hari menjadi pengantar tidur. Dari sekian banyak iklan pariwisata, ternyata tidak ada iklan tentang Indonesia. Boleh jadi kita menganggap karena masyarakat Jepang sudah cukup mengenal Indonesia. Tidakkah kita punya keinginan lebih banyak orang mengenal Indonesia, bukan hanya Bali ?
       
Malaysia menggambarkan dirinya sebagai miniatur Asia. Bahkan Malaysia menggandeng sebuah Bank Internasional untuk membuat iklan dengan pendekatan humanistic, kehidupan seorang sutradara Malaysia yang mampu membaca potensi dan peluang. Tidak ada hubungannya dengan pariwisata secara langsung memang. Tetapi visualisasi keseharian masyarakat  Malaysia dalam iklan itu cukup mencuri perhatian. Paling tidak nama Malaysia berkali-kali disebut dalam iklan pendek itu. Lain lagi dengan Thailand yang menawarkan berbagai kejutan dari banyak pengalaman cultural jika mengunjungi negri Gajah Putih ini. Sedangkan Fiji lebih menonjolkan pantainya yang eksotis. Dan seharusnya Indonesia bisa “menjual” lebih banyak lagi.
       
Sebut saja wisata pantai. Selain pantai-pantai di Bali, kita memiliki Senggigi di Lombok, Parangtritis di Yogyakarta, PAngandaran di Banjar – Jawa Barat Selatan, Kampung Bali di pantai Barat Sumatera di Lampung Barat, Watu Ulo di Jember, Cipatujah di Tasikmalaya, Pasir Putih di Manokwari, Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara, Laut Banda dan masih banyak lagi.
       
Keindahan alam negeri yang kita cintai seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi Kementrian Budaya dan Pariwisata untuk mengeksplorasinya secara baik dan menatanya dengan manajemen yang baik bersama-sama dengan pemerintah daerah. Tidak mesti menyediakan berbagai fasilitas hiburan modern seperti di Bali, bisa dilakukan dengan menyediakan suasana alami dan tradisional.
       
Saat yang bersamaan juga masyarakat sekitar tempat tujuan ini perlu diberdayakan. Mulai dari kesiapan mereka menerima tamu, memperlakukan tamu mancanegara dengan baik, memberi informasi secara lengkap sampai menyediakan souvenir-souvenir hasil karya warga setempat sebagai ciri khasnya atau makanan khasnya.dan yang paling penting para birokrat yang memiliki tugas dalam area ini harus lebih peka, sigap dan kreatif dalam mengembangkan pariwisata yang ramah lingkungan, tidak melanggar norma agama dan sesuai dengan budaya Indonesia.
       
Yang juga penting adalah membiasakan masyarakat kita dimanapun berada menggunakan busana dengan icon-icon tradisional Indonesia. Laos misalnya, menetapkan setiap perempuan harus menggunakan pakaian tradisional mereka. Tidak usahlah kita menyuruh orang berkebaya atau berbaju bodo Makasar. Cukup misalnya para anggota dewan kita menggunakan batik atau baju berbahan tradisional Indonesia. Atau bahkan hanya untuk dasinya saja. Keanekaragaman budaya kita harus kita sendiri yang menunjukkan. Dan masih banyak lagi cara yang dapat dilakukan.

Semoga kita bisa lebih serius menata pariwisata kita!

0 komentar:

Posting Komentar