Home » , , » Pelaksanaan Ibadah Haji Relatif Lebih Baik

Pelaksanaan Ibadah Haji Relatif Lebih Baik

Written By Ledia Hanifa on Selasa, 21 Juni 2016 | 12:16:00 AM



Ketua Komisi VIII DPR RI H. Saleh Partaonan Daulay mengakui jika pelaksanaan ibadah haji saat ini lebih baik dari sebelumnya dan mampu menghemat sampai Rp 40 miliar, tapi masih ada masalah transportasi darat maupun udara, air, AC, bergaining posistion pemerintah yang lemah terkait pendirian klinik di Arab saudi atau sekitar Mina, sehingga saat puncak wukuf di Arafah sebanyak 12 jamaah haji meninggal dan 73 jamaah usia lanjut (Resti) luka-luka. 


“Juga ada masalah Mina baru atau Mina jadid sebagai tempat bermalam (mabit) masih kontroversi sah-tidaknya dalam hukum Islam,” ujarnya.
 
Hadir dalam Konpres Tim Pengawas Haji DPR RI Komisi VIII DPR RI tersebut antara lain Ketua Komisi VIII DPR RI H. Saleh Partaonan Daulay (FPAN), Khatibul Umam Wiranu (Demokrat), H. Deding Ishak (Golkar), H. Shodiq Mudjahid (Gerindra), Hj. Ledia Hanifah Amaliah (FPKS), H. Achmad Mustaqiem (PPP), dan H. Chairul Muna (NasDem).

Khusus tragedi Mina, Saleh Daulay mengusulkan pemerintah Indonesia harus berusaha keras untuk bisa dibangun tiga lantai. Seperti halnya pelaksanaan thawaf, sa’i dan pelemparan jumrah (aqoba, wustho, dan ula) sampai lima lantai. Di Mina harusnya bisa, agar proses pelemparannya bisa tertib. 

 “Lebih tragis lagi kita tak dapat akses ketika terjadi tragedi Mina yang merenggut ribuan jamaah haji. Ini menunjukkan bahwa perlindungan dan penanganan terhadap korban Mina kita lemah,” tambah politisi PAN itu.

Padahal, uang jamaah haji Indonesia sangat besar yaitu Rp 77 triliun. “Harusnya uang itu tunjukkan ke pemerintah Arab Saudi, bahwa kita ini bukan hanya kaya akan TKW, tapi juga punya uang. Bahkan, uang yang berputar selama musim haji di Makkah-Madinah itu mencapai Rp 73 triliun, belum dari visa haji dan lain-lain. “Prinsipnya bergaining dengan Arab Saudi harus ditingkatkan oleh pemerintah, agar kita tidak dianggap lemah,” pungkasnya.

Posisi Indonesia diakui Ledia Hanifah Amaliah memang disamakan dengan Malaysia, sehingga bahasa petunjuk pelaksanaan haji di sana menggunakan bahasa Melayu Malaysia. “Jadi, posisi Indoensia memang lemah, karenanya harus ditingkatkan mengingat jamaah haji Indonesia terbesar,” katanya.

Khatibul Umam mengakui jika saat ini Arab Saudi makin komersil dalam mengurusi ibadah haji khsususnya setelah Amerika Serikat menjadi salah satu investor dalam berbagai pendirian gedung pencakar langit seperti hotel dan gedung bertingkat di sekitar Masjidil Haram termasuk Ka’bah. “Jadi, di salah satu umat Islam menyembah Allah SWT, namun sekaligus kita dipermalukan dengan gedung dan hotel tersebut karena secara umum mengganggu proses pelaksanaan ibadah haji,” ungkapnya.

Karena itu, secara umum  Tim Pengawas Haji DPR RI merekomendasikan beberapa hal antara lain: rekrutmen petugas haji terutama tim pembimbing ibadah haji Indonesia (TPIHI), dan tim pemantau haji daerah (TPHD) ditengarai banyak direkrut bukan dari personel yang memiliki kompetensi yang layak, keterlambatan visa, pemondokan yang masih bermasalah dengan air, toilet dan AC, transportasi, konsumsi, kesehatan, perlindungan jamaah haji di Makkah, dan menejemen haji yang masih tidak singkron.

Sesuai dengan UU No.13 tahun 2008 tentang penyelengaraan ibadah haji, bahwa ada tiga poin yang harus menjadi perhatian penyelenggara ibadah haji, yaitu pembinaan, pelayanan, dan perlindungan. Untuk itu, Komisi VIII DPR RI merekomendasikan beberapa hal terkait ketiga aspek tersebut adalah: mendesak pemerintah Arab Saudi untuk melakukan perbaikan fasilitas pelayanan di Masjidil Haram, perlu ada early warning system di Masjidil Haram, ada instrumen peringatan dini jika akan terjadi bencana badai besar, seperti sirine peringatan bagi jamaah haji yang sedang di masjidil haram serta ada emergency exit. (Adji).

http://www.mitranews.net/sosial-budaya/pelaksanaan-ibadah-haji-relatif-lebih-baik

0 komentar:

Posting Komentar