Home » , , , » Wakil Ketua Komisi VIII: Banyak Orang Tua di Indonesia yang Tidak Paham Bagaimana Mendidik Anak

Wakil Ketua Komisi VIII: Banyak Orang Tua di Indonesia yang Tidak Paham Bagaimana Mendidik Anak

Written By Ledia Hanifa on Senin, 20 Juni 2016 | 2:02:00 AM



Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ledia Hanifa mengatakan, banyaknya kasus kekerasan terhadap anak menunjukkan betapa sesungguhnya mayoritas orang tua di Indonesia tidak tahu bagaimana menjadi orang tua. Menurutnya ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi lembaga-lembaga terkait.

“Kalau kita bicara soal penanganan kasus per kasus tidak akan ada habisnya, selama kita tidak memperbaiki di hulu nya,” kata Ledia dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komnas Perlindungan Anak di Ruang Rapat Komisi VIII DPR, Senin (21/9).

Ia mempertanyakan, sebetulnya apa yang seharusnya dilakukan terutama terhadap orang tua. Misalnya, kata Ledia, ketika ada orang tua dihukum, satu anak menjadi korban, lalu anak-anaknya yang lain juga tidak ada penanggung jawab nafkah utama. Akhirnya, yang jadi korban bukan hanya satu anak itu.

“Apalagi kalau kondisi keluarga urban, biasanya tidak ada saudaranya. Kalau di pedesaan mungkin masih ada pakde atau bude-nya jadi satu, tapi ini nanti akan seperti apa,” ujar Ledia.

Kemudian ia juga mengungkapkan, human trafficking (penjualan manusia) terhadap anak-anak di ASEAN itu tinggi. Ia mencontohkan bagaimana kasus yang terjadi di Thailand, Pilipina, Indonesia dan beberapa negara lain. Mungkin, lanjutnya,  angkanya berbeda-beda, tetapi ketika melihat di Indonesia,  ada budaya yang  menurutnya mengerikan bahwa anak yang dipandang berharga oleh orang tua adalah anak yang bisa memberikan materi kepada orang tua.

“Di salah satu kabupaten di Jawa Barat itu istilahnya budayanya meluruk duit, memberikan uang, itulah orang yang berharga. Ketika kemudian mereka dianggap tidak mampu memberikan sesuatu kepada orang tuanya, pilihannya kan disuruh kerja, dijual, dicarikan orangnya,” ungkap Politisi PKS itu.

Menurutnya, hal itu merupakan hal yang mengerikan, ketika bukan cuma kejahatan fisik maupun seksual yang dilakukan oleh orang tua, tetapi orang tua yang menjual anaknya untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat materi.  Misalnya, ditukar dengan becak, kemudian ditukar dengan uang tiga juta untuk mengirim anaknya ke luar negeri tapi tidak tahu anaknya nanti kembali dalam keadaan hidup atau tidak, kemudian gangguan kejiwaan bisa terjadi dan masalah-masalah lainnya.

“Ini kan nampak sekali merata bahwa orang tua Indonesia secara umum  tidak paham bagaimana mendidik anak,” pungkasnya. (Fahri Haidar)




0 komentar:

Posting Komentar